Ahmad Nur Khafidz Ajak Generasi Muda Blora Jadi Pemikir Kritis di Era Banjir Informasi

Bloragens.web.id – Blora Gens menggelar kegiatan pengembangan kepemimpinan bertajuk “Berpikir Kritis di Era Banjir Informasi” pada 30 Agustus 2026, yang bertujuan membekali generasi muda Blora dengan kemampuan menganalisis dan mengevaluasi informasi sebelum mempercayai, menyimpulkan, atau mengambil keputusan.

Kegiatan yang berlangsung di Dahayu Blora ini menghadirkan Ahmad Nur Khafidz, selaku Chief Operating Officer Blora Gens dan lulusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang 2025, sebagai pemateri utama yang mengajak peserta untuk tidak sekadar pintar menjawab, tetapi juga berani mempertanyakan.

“Kepintaran menyimpan banyak jawaban, tetapi berpikir kritis menguji apakah jawaban itu benar,” tegas Ahmad Nur Khafidz di hadapan para peserta yang antusias mengikuti sesi demi sesi.

Ia mengajak peserta merenungkan pengalaman pribadi dengan pertanyaan, “Kalau orang pintar saja bisa salah, mungkin masalah kita bukan sekadar kepintaran, melainkan cara kita berpikir,” sebagai pembuka diskusi tentang pentingnya berpikir kritis.

Dalam pemaparannya, Khafidz yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Impara UNNES 2023 dan Kepala Departemen Abdimas HIMA PGSD 2023 ini menjelaskan bahwa di era banjir informasi saat ini, ribuan video TikTok dan Reels masuk tiap jam, kecerdasan buatan seperti ChatGPT memberi jawaban instan, dan media mengejar clickbait serta sensasi.

“Banyak informasi tidak sama dengan banyak kebenaran,” ujarnya mengingatkan peserta tentang bahaya hidup di lautan informasi tanpa kemampuan menyaring yang memadai.

Ia juga menekankan bahwa berpikir kritis bukan sekadar membantah atau selalu tidak setuju dengan orang lain, melainkan memeriksa alasan logis di balik klaim, mencari bukti valid yang objektif, mempertimbangkan sudut pandang lain, dan bersedia mengubah pendapat jika terbukti salah.

“Berpikir kritis bukan tentang selalu benar, tetapi berani menguji apa yang kita percaya,” ungkap Khafidz mengutip pesan utama dari materinya.

Peserta diajak memahami perbedaan mendasar antara fakta, opini, dan asumsi, di mana fakta dapat diperiksa kebenarannya berdasarkan bukti empiris, opini merupakan pandangan atau penilaian pribadi, sedangkan asumsi adalah anggapan sebelum terbukti yang sangat berbahaya jika tidak diuji.

Kegiatan ini juga menghadirkan berbagai sesi interaktif, termasuk “Fallacy Hunt Challenge” di mana peserta diminta mengidentifikasi berbagai kesalahan berpikir seperti Ad Hominem, Overgeneralization, False Cause, dan Appeal to Authority dalam pernyataan sehari-hari.

“Pemikir kritis tidak dinilai dari jawaban yang ia punya, tetapi dari kualitas pertanyaan yang ia ajukan,” tuturnya saat memperkenalkan enam level pertanyaan kritis yang harus diajukan sebelum mempercayai sebuah informasi.

Dalam sesi studi kasus, peserta diajak menganalisis dilema pelarangan smartphone di sekolah dan mengevaluasi posisi awal mereka setelah mendapatkan data baru, serta mempraktikkan workflow detektif informasi yang terdiri dari Stop, Check, Question, Compare, dan Conclude.

Khafidz yang juga berpengalaman sebagai Master of Ceremony berbagai acara dan Ketua Panitia Pagelaran Seni Budaya ini menekankan pentingnya membedakan antara pendapat yang hanya klaim tanpa dasar dengan argumen yang teruji melalui formula C-E-R, yakni Claim, Evidence, dan Reasoning.

“Orang cerdas mencari jawaban, orang kritis mencari alasan,” pungkasnya menutup sesi dengan pesan mendalam tentang pentingnya membangun kebiasaan tidak cepat percaya, menanyakan bukti, membedakan fakta dan asumsi, mencari sudut pandang lain, serta berani mengubah pikiran demi kebenaran.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Blora Gens untuk terus mencetak pemimpin muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kritis dan bijak dalam menyikapi arus informasi yang semakin deras di tengah perkembangan teknologi digital.